Cerita Seks Dewasa – Kami Saling Berlomba Memberikan Kenikmatan


Cerita sex terbaru, cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante.

Peristiwa ini terjadi saat aku bekerja di salah satu perusahaan besar di kota J, di perusahaan itu aku sudah bekerja selama 5 tahun, dan jabatanku saat ini adalah sebagai Kepala bagian. Namaku Didik, umurku saat ini 35 tahun, aku termasuk orang yang sangat rajin dan ulet saat bekerja sehingga aku bis amenduduki jabatanku yang sekarang. Aku sudah menikah dan memilki satu anak perempuan. Tapi aku juga mempunyai sifat tidak baik yang sangat sulit untuk aku cegah sampai saat ini, aku selalu terangsang dan ingin menggauli bawahanku yang aku lihat mempunyai tubuh seksi bahenol dan cantik. Tak peduli dia masih single atau bahkan sudah bersuami dan mempunyai anak.

www.cerwasa.com

Dan kebetulan saat itu ada pegawai baru yang cantik dan imut, umurnya kira-kira 27 tahunan. Tinggi sekitar 155 cm, tapi dia memiliki senyuman yang sangat manis sekali, ditambah goyangan pantatnya saat berjalan sering membuat penisku menggeliat. Namanya Nita, kulitnya putih bersih, rambut sebahu hitam yang lebat, dan yang pasti Nita memilki postur tubuh yang sangat menggoda setiap laki-laki.

Nita sudah menikah tapi Nita belum dikaruniai anak, itu yang membuatku semakin bergairah untuk bisa mendapatkan tubuh dan pantatnya yang seksi. Saat dikantor, aku sering kali mencuri-curi pandang dengannya, sering aku menggodanya dengan godaan-godaan sedikit mengarah seputar seks, dan Nita menanggapi godaanku itu dengan senyuman centilnya.

Semakin lama godaanku membuat Nita mulai berani membalasnya, aku sering memergoki dia sedang memandangiku. Senyumanku kepada Nita setiap hari membuat aku semakin akrab dengan Nita. Aku berpikir godaanku sudah mempengaruhi pikirannya, Hem… sebentar lagi aku pasti akan bisa mendapatkannya. Hingga aku tak segan lagi untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Tak kusangka, dia pun membalas panggilanku sayang dengan panggilan sayang juga.

Sejak saling memanggil dengan panggilan sayang itulah, kita pun semakin akrab dan dekat, bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih meski kita tidak ada status apapun. Sering aku mencuri kesempatan didalam ruanganku dengan sedikit godaan mesra, dan Nita pun menanggapi dengan senyuman mesra, seakan Nita juga menghendaki hubungan ini terjadi.

Hubungan kami hari demi hari semakin bertambah mesra. Yang pada awalnya hanya saling lirik dan senyum, kini sudah mulai meningkat menjadi saling remas walaupun hanya sebatas remasan tangan. Namun itu sudah menunjukkan bahwa dirinya menyukaiku. Rasa rindu untuk cepat bertemu mulai mengganggu pikiranku, demikian pula dengan dirinya.

Hingga pada waktu hari sudah sore, saat teman-teman kantor yang lain sudah pulang. Akupun sedang bersiap-siap hendah pulang, terdengar ketukan di pintu ruanganku dan kemudian disusul munculnya Nita dengan wajah cantik dan tersenyum mesra begitu pintu dibuka dari luar.

“Sore sayang… Belum pulang ?” sapanya hangat dan mesra sambil kakinya melangkah masuk dan berdiri persis di samping tempatku duduk di belakang meja kerja.

“Ini baru aja mau pulang… ” jawabku balas tersenyum namun tanpa sadar mataku selalu tertuju bongkahan indah di dadanya dalam beberpa saat.

“Sayang… kok malah bengong gitu? Nggak suka ya, Nita kemari?” katanya dengan menyebutkan nama panggilan mesranya.

Kata-kata yang meluncur dari bibirnya yang menggemaskan itu, terdengar begitu menyejukan hatiku. Mana mungkin aku bisa melupakannya? Siapa pula yang bisa menahan diri saat wanita cantik, bertubuh sintal yang menyebarkan aroma penuh dengan rangsangan berdiri begitu dekat di sampingku? Bahkan saking dekatnya aku dapat merasakan kulit lembut kakinya bersentuhan dengan pahaku. Sejenak aku menatap wajahnya. Ia pun tengah melihat ke arahku. Mata kami bertemu. Saling pandang penuh arti. Kulihat matanya berbinar-binarnya, menyembunyikan perasaan yang begitu mendalam.

Hangat dan mesra sekali pancaran tatapan matanya. Penuh gairah. Sebagai Laki-laki yang masih tergolong muda, tentu saja masih penuh dengan gelora jiwa mudaku yang mudah sekali terangsang. Usiaku sekarang ini yang sedang tinggi-tingginya dalam hal gejolak gairah lelaki.

“Eh… Siapa sih yang menolak bila berdekatan sama wanita secantik kamu?” jawabku seraya meraih tangannya ke dalam genggamanku. Kuremas perlahan dengan penuh kelembutan.

“Mulai deh …. rayuan mautnya dikeluarin” katanya seraya makin memepetkan dirinya ke tempat dudukku. Kurasakan pahanya bergeseran dengan pangkal lenganku.

Meski masih terhalang kain roknya, aku dapat merasakan kehangatan dan kelembutan kulit pahanya. Gairah lelaki menjalar ke sekujur tubuhku dan mengarah semuanya ke pusat selangkangannku. Aku jadi gelisah. Aku tak ingin ia memperhatikan perubahan di bagian depan celanaku. Tanpa membuang waktu segera tubuhnya kutarik hingga terjatuh ke pangkuanku.

“Auuwwhhhhhh…. ” pekiknya manja sambil merangkul leherku agar tubuhnya tak terguling dari pangkuanku.

“Sayang… kok jadi tambah nekad sih?” lanjutnya sambi jarinya mencubit pipiku dengan lembut.

“Tapi Nita suka khan?” balasku menatapnya dengan mesra.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan. Balas menatapku dengan tatapan yang berbinar penuh gairah. Kuamati seluruh wajahnya. Ia memang cantik. Matanya bersih bersinar. Bulu matanya lentik. Hidungnya mancung, dan bibirnya. Akh sungguh mempesona. Sungguh mengairahkan. Apalagi saat lidahnya dikeluarkan untuk membasahi bibirnya. Sangat mengundang napsu birahi. Aku tak tahan untuk segera mengulumnya.

Bibirku langsung mendarat mengulum bibirnya. Kukecup mesra. Ia balas dengan mesra. Kukulum lembut. Nita menyambutnya. Kami berciuman dengan hangat dan mesra. Lidah kami saling mencari. Saling mengait. Tangannya meremas-remas bagian belakang kepalaku sambil menariknya sehingga ciuman kami semakin kuat. Aku balas dengan mengelus dan meremas punggungnya. Ia menggeliat sambil mengerang perlahan merasakan kehangatan cumbuanku.

Gerakan tubuhnya membuat pantatnya yang berada dipangkuanku dengan sendirinya menggesek-gesek penis yang berada di balik celanaku. Saat itu aku sudah begitu terbuai sekali. Kelembutan dan kehangatan buah pantatnya membuatku terangsang hebat. Rupanya ia sengaja melakukan gerakan itu. Pantatnya terus-terusan digesek-gesek kepenisku yang sudah semakin mengeras saja rasanya. Mengimbangi permainannya, tanganku mulai ikut-ikutan beraksi. Dimulai dengan mempreteli seluruh kancing bajunya.

Kulihat kulit dadanya yang bersih dan putih nampak begitu merangsang. Kuelus perlahan. Nita melenguh menikmati elusan lembut di seputar dadanya. Pagutan bibirnya semakin kuat, dekapannya semakin erat. Tanganku menggerayang semakin liar, meremas payudaranya yang masih terbungkus kutang tipis. Tonjolan putingnya kupermainkan. Tubuh Nita bergetar hebat dibuatnya. Aksi tanganku di daerah puting itu membuat darahnya berdesir kencang. Gairahnya menggelora dan semakin menyesakan dadanya.

Rangsangan itu bertambah kuat seiring dengan elusan tangan nakalku mulai merogoh ke dalam kutangnya. Sentuhan itu langsung seakan memicu seluruh naluri kewanitaannya. Nita berubah garang. Gerakannya semakin binal, liar dan tak terkontrol. Apalagi ketika merasakan elusan lembut di pahanya, bergerak perlahan merambat naik ke pangkal pahanya.

“Ouugghhhhhhhhh…..” erangnya penuh kenikmatan seraya membimbing tanganku lebih dalam ke arah selangkangannya.

Tanganku segera menemukan gundukan daging hangat di balik celana dalamnya yang kenyal sudah mulai membasah. Ujung jariku menelusuri garis memanjang di sekitar bibir kemaluannya. Kudengar erangan demi erangan meluncur dari bibirnya setiap kali tanganku menekan di sekitar liang itu. Roknya sudah kuangkat tinggi-tinggi agar tidak menghalangi gerayangan tanganku.

Sementara tanganku yang satunya lagi mengeluarkan Payudara Nita dari balik kutangnya. Tidak terlalu besar, tapi kenyal dan keras. Bentuknya indah, apalagi putingnya yang berwarna kemerahan itu nampak sudah berdiri tegak seakan menanti kuluman mulutku.

“Aaaaaauuhh. isep sayanggggg… terusssss. akhhh enak bangettttt…..” rintihnya keenakan.

Aku tak perlu menunggu perintahnya, karena mulutku sudah langsung menyambarnya. Lidahku menelusuri seluruh ujung pentilnya. Akibatnya sungguh luar biasa, Nita menggelinjang kegelian yang diiringi rintihan dan erangan penuh kenikmatan. Sementara tangannya mulai bergerilya menggerayang kemana-mana sampai akhirnya berhenti tepat di selangkanganku. Tangannya bergerak lincah meremas-remas penisku yang masih terkungkung di balik celana. Aku berharap ia segera membebaskan penisku yang sudah berontak itu dari kungkungan celanaku.

“Sayangggggg…. uuuughhh” aku melenguh tanpa sadar begitu tangan Nita merogoh ke dalam balik celana dan menggenggam penisku. Terasa begitu lembut dan halus permukaan telapak tangannya.

Perlahan namun pasti, ia mengocok Penisku mulai dari bawah hingga ke atas, lalu turun kembali dan begitu seterusnya dengan irama yang semakin meningkat cepat. Enak sekali rasanya. Tubuhku seperti melayang-layang dibuatnya. Kurebahkan kepalaku di senderan kursi. Menikmati semua apa yang dilakukannya padaku. Kulihat tangan satunya lagi meraih ke bawah. Aku kira ia kan menggunakan kedua tangannya untuk mengocok, tetapi ternyata ia malah mencopot celana dalamnya sendiri dan melemparnya ke lantai. Aku tahu. Apa yang akan dilakukannya. Lalu ia mengangkat roknya tinggi-tinggi lalu merubah posisinya sehingga mengangkangiku sementara Penisku ditegakkan berdiri.

“Sayangggg…. udah. Jangan diterusin” kataku mengingatkan. Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Aku menahan tubuh Nita agar jangan sampai itu terjadi. Kulihat tatapan matanya yang redup penuh harap, melirik padaku dengan penuh tanda tanya. Mana ada lelaki yang tahan melihat wanita secantik dirinya memohonseperti itu dan sekarang ada dalam posisi siap ditembak.

“Kenapa… sayang?” ucapnya penuh keheranan dengan sikapku yang memang, menurut para lelaki, tidak tahu diuntung.

“Kita nggak boleh kaya gini” ucapku dengan hati-hati.

“Nggak apa-apa kok sayang. Aku rela dan suka melakukannya.” jawab Nita yang justru membuatku semakin terangsang.

Aku berusaha untuk berpikir jernih dan mencari jalan agar semua ini tidak terjadi. Aku tak ingin semuanya berantakan gara-gara perbuatan ini. Tapi? Akh, rasanya aku tak bisa lagi berpikir jernih begitu ia mulai melumat bibirkuku dengan penuh mesra dan hangat. Tangannya bekerja cepat mempreteli kancing bajuku hingga membuka seluruh dadaku.

Ia langsung menciuminya. Mengemot putingnya. Lidahnya menari-nari di atas dada lalu turun ke perut dan terus semakin ke bawah. Aku tak pernah sadar sejak kapan ritsluting celanaku terbuka. Tahu-tahu kulihat Penis Penisku sudah mengacung dari balik celanaku yang terbuka, sementara wajah Nita sudah sangat dekat sekali berada di sana.

“Aaacchhhh…. Nitaaaaaa”, Pekikku dalam hati manakala kulihat mulut Nita terbuka dan lidahnya menjulur menyapu permukaan ujung Penisku. Tubuhku bergetar hebat merasakan sapuan lembut dan hangatnya lidah Nita itu di sana.

Mataku sampai terpejam karena nikmat yang tiada tara kurasakan saat itu. Pikiran-pikiran untuk menghentikan perbuatan ini saat itu langsung lenyap entah kemana. Aku tak bisa lagi untuk menolaknya. Apalagi mulut wanita cantik ini begitu lihai mengulum Penisku. Mungkin ini merupakan kuluman ternikmat yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Yang penting semuanya harus kunikmati. Wanita cantik bertubuh seksi yang sedang bergairah ini harus mendapatkan kenikmatan yang sama. Setelah itu, aku langsung meraih tubuhnya untuk berdiri mengangkangi tubuhku yang duduk di kursi. Penisku kuberdirikan tegak mengarah persis ke liang vaginanya.

www.cerwasa.com

Kuminta ia untuk berjongkok dengan kedua kakinya naik ke tepian kursi di kedua sampingku. Tubuhnya turun perlahan. Penisku mulai menerobos ke dalam liangnya. Terasa hangat dan sempit. Penisku terus menerobos masuk karena di sekitar liang itu sudah licin. Nita melenguh panjang begitu seluruh Penisku terbenam di dalamnya. Matanya terpejam erat, kepalanya melengak ke atas. Kedua tangannya berpegangan pada leherku. Ia mulai bergerak turun naik, bergoyang ke kiri dan ke kanan. Aku mengimbanginya dengan sodokan-sodokan kuat.

Kami saling berlomba memberikan kenikmatan. Kulihat di depan wajahku, Payudaranya yang sudah tertutup kutang itu, bergelantungan kesana kemari. Bibirku langsung menangkapnya. Kuemut-emut kedua putingnya. Ia merintih dan mengerang. Kedua tanganku berpegangan pada pantatnya. Sambil meremas, aku tarik ke dalam agar Penisku bisa mencapai bagian yang terdalam di dasar vaginanya.

“Sayangggg…. Ooouugghh.. nikmaat.. enaakkhh.. sstttttttt” erangnya tak karuan.

“Ayo sayang. Goyangin yang kenceng…. uughgh….” aku pun mengerang-erang kenikmatan.

Tiba-tiba ia memekik sambil mendekap kepalaku erat-erat ke dalam dadanya. Tubuhnya bergetar hebat. Pinggulnya didesakan kuat-kuat sehingga Penisku terbenam seluruhnya. Tak lama kemudian kurasakan curahan cairan hangat pada Penisku di dalam liangnya. Nita telah mencapai orgasmenya.

Ia terus-terusan merintih sambil meracau tak karuan. Aku tak sempat memikirkan ucapannya itu, karena aku pun tengah berjuang menahan desakan dari dalam diriku sendiri sampai akhirnya tak tahan lagi dan menyemburkan sperma berkali-kali ke dalam liang vaginanya. Pinggulku sampai terangkat tinggi-tinggi ketika menyemprotkan sperma. Sungguh nikmat rasanya karena spermaku banyak sekali semburannya. Bayangkan saja aku sudah tidak berhubungan dengan istriku selama ia haid seminggu ini. Kudekap tubuh Nita erat-erat. Kuhirup keharuman aroma tubuhnya yang begitu harum. Sambil kubisikan kata-kata mesra.

“I love u sayanggg….”

Untuk beberapa saatnya kami hanya saling berpelukan merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Sambil memikirkan wanita secantik dirinya, yang sehari-hari nampak lembut dan pemalu, bisa berubah binal bagai kuda jalang saat bercinta denganku. Aku hanya bisa mengeluh bahagia penuh keberuntungan dapat menikmatnya dengan puas.

“Sayang…, Nita nggak mau pulang. Pengen berdua terus seperti ini” bisiknya lagi.

Aku terhenyak. Kaget tak terkira dengan ucapannya itu. Aku tak tahu perasaanku saat itu. Apakah harus senang atau takut mendengar pengakuannya ini. Aku tak ingin peristiwa ini tercium oleh rekan-rekan yang lain dan tak mungkin terus berada di sini. Walaupun yang lain telah pulang, mungkin saja nanti ada satpam perusahaan yang mengontrol kemari.

“Ayo kita pulang. Nanti ketahuan orang” ajakku buru-buru seraya mendorong tubuhnya dari atas tubuhku.

“Nggak mau. Pokoknya Nita pengen dekap Mas terus” rengeknya.
“Nita sayanggggg…. jangan begitu donggggg” balasku
“Biarin” katanya ngambek.

Aku panik melihatnya seperti ini. Akhirnya aku mendapat jalan untuk membujuknya.

“Ok, kalau Nita pengin dekap mas terus, kita cari tempat yang lebih aman” kataku kemudian.
“Ya Mas, kita ke hotel aja yuk” usulnya dengan gembira.
“Nanti kita bisa mandi bareng di sana. Nanti Nita mandiin, terus ‘Penis perkasa ini’ Nita sabunin juga” katanya lagi sambil mempermainkan Penisku yang sudah tergolek lemas.

Aku hanya mengiyakan saja karena yang penting harus cepat-cepat pergi dari sini. Kami berdua lalu segera berangkat ke hotel di pinggiran kota. Sepanjang jalan Nita tak pernah melepaskan pelukannya dariku. Kurasakan Penisku langsung menggeliat bangun kembali saat aku membayangkan bagaimana serunya bercinta semalaman di hotel.

Kisah selanjutnya di inginseks22.com

Tags: Cerita sex terbaru, cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante.